Gampang-Gampang Susah



 “Anda suka banyak bicara, lebih baik jadi penyiar saja”. Pernyataan inilah yang sering terdengar dari orang-orang ketika melihat seseorang yang suka berbicara. Apakah benar untuk menjadi seorang penyiar hanya membutuhkan sekedar “banyak bicara” ?.
Memang tidak salah kalau kita menyebut keahlian berbicara sebagai modal, tetapi diluar itu ada banyak hal teknis yang harus diperhatikan, karena penyiar memegang peranan penting dalam mewujudkan ‘theater of mind’ yang menjadi ciri khas radio.
Beberapa hal teknis yang harus diperhatikan jika ingin menjalani karir sebagai penyiar radio antara lain :
1.   Artikulasi yang jelas
2.   Pernapasan yang baik
3.   Mengerti musik, hal ini berhubungan dengan bagaimana Anda menyesuaikan dengan tempo lagu
4.   Mood, penyiar tidak boleh terdengar murung atau tidak bersemangat
5.   Pengetahuan yang luas
6.   Tidak boleh cacat huruf (Cadel)

 Bagaimana melatih hal itu?
Ada beberapa cara untuk melatih kemampuan menjadi seorang penyiar :
1.   Olahraga Teratur
Olahraga secara teratur akan berdampak pada stabilnya pernafasan Anda. Pernafasan yang baik tentunya akan membuat kekuatan suara Anda menjadi stabil saat siaran.
2.   Lion Face
Lion face adalah istilah untuk senam wajah sebelum siaran. Kerutkan wajah Anda sedalam-dalamnya, dan buka lebar-lebar. Ini akan membuat Anda menjadi lebih relax dan santai saat siaran.
3.   Senam Rahang
Setiap pagi, latihlah mulut Anda dengan mengucapkan A-I-U-E-O. Hal ini supaya rahang Anda terbuka dengan baik dan terhindar dari ‘poping’ (suara “pep” yang menyembur saat berbicara di microphone.
4.   Berbicara di Atas Lagu.
Suka mendengarkan musik? Mulai sekarang belajarlah memperhatikan durasi intro sebuah lagu dan mulailah berbicara di atas intro lagu. Tapi ingat, gunakan kalimat yang efektif dan jangan sampai saat sang penyanyi mulai menyanyikan lirik lagu kamu masih berbicara, hal itu sangat haram hukumnya bagi penyiar. Berbicara di atas lagu juga bisa membantu menyesuaikan tempo berbicara Anda dengan tempo lagu.
Jenjang Karir?
Siapa bilang penyiar radio tidak memiliki prospek karir . Seorang penyiar radio yang baik bisa memiliki jenjang karir yang bagus juga loh. Selepas menjadi penyiar radio, mungkin saja Anda bisa menjadi produser radio, presenter tv, dubber dengan tarif jutaan rupiah per satu kali produksi, atau mungkin seorang penyanyi.

Tiga Daya Tarik Radio

Daya tarik radio adalah hal yang menarik dari radio sehingga radio didengarkan oleh masyarakat. Menurut romeltea.com, minimal ada tiga hal yang menjadi alasan pendengar mendengarkan sebuah radio. Jika salah satunya tidak ada, maka radio itu tidak akan didengarkan alias dicuekin!

Tiga daya tarik radio menurut blog romeltea itu adalah:
1. Lagu
2. Penyiar
3. Informasi

Dari tigal alasan mendengarkan radio itu, salah satunya harus bagus. Kalau ketiganya bagus, mantap banget! Kalau jelek semuanya.........? Habislah riwayat radio itu. Bagaimana tidak bangkrut, kalo lagu jelek, penyiar jelek (siarannya jelek maksudnya), dan informasinya juga tidak aktual dan tidak menarik?
 
LAGU
Mendengarkan lagu adalah alasan utama mayoritas pendengar menyalakan radio mereka. Lagu memang identik dengan radio. Radio identik dengan musik. Radio gudangnya lagu. Jadi, kalo masyarakat ingin dengerin lagu, ya pastinya setel radio selain memutar lagu sendiri di HP atau di Komputernya (pasti hasil bajakan atau download ilegal tuh, wkwkwk....!)

Jadi, radio harus memutarkan lagu yang enak, lagu hits, jika ingin didengarkan radio.

PENYIAR
Kalau lagunya jelek, baik jelek karena kualitas audio maupun memang "gak enakeun", maka penyiarnya harus bagus, artinya gaya siarannya harus menarik, memikat, memukai, mengesankan, bikin gemes dan gregetan pendengar!

Penyiar yang baik harus bersuara baik, teknik vokal baik, teknik pernapasan baik, dan bersikap baik juga --istilahnya  "on air attitude"-nya harus OK! Ramah, friendly, hangat, bersahabat, ceria, de el el.

INFORMASI
Kalau lagu jelek, penyiar juga jelek siarannya, maka minimal informasinya bagus deh! Aktual! Penting! Coba aja, kalau ada acara penting, lalu tidak disiarkan TV, tapi disiarkan radio, maka pastinya radio itu didengarkan banyak orang! Gak ada pilihan 'kan?


Pendengar juga butuh informasi, butuh menambah wawasan, makanya orang radio juga harus berwawasan dan bisa menyebarkan informasi, baik berupa acara khusus berita, maupun berita di sela-sela siaran, misalnya "News Insert" atau ada "Breaking News" gitu deh.

Radio Tools - Peralatan Siaran Radio (Konvensional)
MENGENALI alat-alat siaran radio (Radio Tools) merupakan bagian dari dasar-dasar siaran radio yang harus dipahami setiap penyiar atau reporter radio. Radio Tools adalah "logistik perang" atau "alutsista"-nya broadcaster.

Peralatan siaran radio terpopuler adalah mikrofon (mike). Coba saja ketik "announcer" di Google, lalu klik "Gambar/Images", maka bermunculannya gambar-gambar orang plus mike. 

Gambaran alat siaran radio di ruang siaran juga bisa dengan cepat diintip lewat Google. Ketik aja "penyiar", klik "Images/Gambar", maka akan bermunculan penyiar in action (on air) di ruang siaran, plus kelengkapan siaran di ruangan itu.

Tentu, yang dimaksud radio tools di sini adalah perangkat siaran radio konvensional, bukan radio online atau radio internet yang "cuma" butuh komputer, headset (mike plus earphone), dan koneksi internet.
Radio Tools di Ruang Siaran (Tempat Penyiar Bertugas)
1. Komputer 
2. Mixer/Radio Console
4. Microphone
5. Headphone
6. Power Amplifier
7. Telephone Hybrid

Peralatan Ruang Produksi (Tempat Produser dan Staf Produksi Bekerja)
1. Komputer 
2. Microphone
3. Mixer/Radio Console 
4. Microphone 
5. Headphone
6. Power Amplifier

Lho....? Sama ya kayak ruangan siaran? Iya, bedanya cuma "Telepon Hybrid" aja karena ruang produksi 'kan gak nerima telepon dari pendengar. Nah, jika ruang siaran lagi "trouble", maka ruang produksi bisa digunakan sebagai ruang siaran.


Peralatan Pemancar (Luar Ruang Siaran)
1. Pemancar
2. Audio Prossesor
3. Antenna
4. Power Divider
5. Cable Coax
6. Connector Plange
7. Tower
Radio Software
Selain “perangkat keras” (hardware) di atas, ada juga “perangkat lunak” (software) berupa program atau aplikasi komputer untuk proses produksi --seperti merekam dan audio editing-- serta ”memainkan” file-file lagu, iklan, atau lainnya yang harus ”diputar” di ruang siaran. 

Software program ini antara lain:
1.   Sound Forge
2.   Adobe Audition
3.   Music Match Jukebox
4.   Megamix Radio
5.   Broadcasting Automatic System (BAS)
6.   Jet Audio
7.   Real Player
8.   WinAmp
Itu dia Radio Tools - Peralatan Siaran Radio (Konvensional) yang dibagi dalam dua bagian: hardware dan software. Wasalam (www.romelteamedia.com).*

Tips Menjadi Penyiar Radio Profesional
"Menjadi Penyiar Radio Itu Asyik Lho!" Saya gambarkan keasyikan dan "kebahagiaan" sebagai penyiar, mulai dari ekspresi diri, menghibur pendengar, berbagi info, hingga "mengeritik pemerintah".

Modal utama penyiar adalah SUARA EMAS (Golden Voice).

Radio adalah suara. Modal penyiarnya juga suara merdu, asyik, plus "heboh" saat membawakan acara agar menghibur pendengar.

Namun, suara merdu saja tidak cukup. Penyiar juga mesti berwawasan luas agar "omongannya berisi", berbobot, tidak "kering makna", serta mampu menampilkan "on air attitude" yang sesuai dengan format program dan kode etik kepenyiaran radio.

Penyiar radio juga "wajib" suka musik. Ia harus memiliki "sense of music" yang tinggi. Soalnya, tugas penyiar bukan hanya mutar lagu-lagu, tapi juga mesti paham tentang jenis musik, alat musik, dan artisnya. Dengan begitu, sebelum dan/atau sesudah memutar lagu, ia tidak cuma nyebutin judul lagi dan penyanyi.

Karena penyiar juga seorang "penghibur" (entertainer), maka seorang penyiar radio profesional harus humoris, memiliki "sense of humor" yang memadai, punya bakat menghibur. Tentu, humornya yang "berkelas".

Kiat Menjadi Penyiar Yang Baik.

Dalam dunia siaran, khususnya radio, diperlukan beberapa pengetahuan atau trik yang lebih simpel dan praktis agar si penyiar bisa disenangi oleh pendengarnya dan bisa berkomunikasi dengan baik, sehingga format dan program acara tersebut sesuai dengan segmen radio tersebut. Bagi sebagian orang, profesi yang satu ini dinilai sangat menyenangkan. Namun siapa sangka, untuk menjadi seorang penyiar radio atau TV, tidak cukup jika hanya bermodalkan suara yang bagus saja. Wah.. kesannya jadi seorang penyiar susahnya minta ampun. Padahal pada dasarnya, tidak ada yang mudah jika kemauan tidak diimbangi dengan kemampuan, dan tidak ada yang susah jika ada niat dan usaha.

Dibawah ini adalah beberapa kiat praktis atau cara menjadi penyiar radio yang handal :
1.   Lancar berbicara dan tidak terbata-bata di dalam mengucapkan kata kata. di dalam dunia radio yang dijual oleh media tersebut adalah suara dan gaya bicara seorang penyiar yang lancar dalam berbicara dan mempunyai gaya bicara serta intonasi yang baik. 
2.   Bisa merangkai kata-kata menjadi kalimat menarik. kata dan kalimat merupakan hal utama yang harus diperhatikan oleh seorang penyiar, karena hal tersebut merupakan kunci utama membawa berhasil dan tidaknya seorang penyiar di dalam membawakan salah satu mata acara di radio tersebut.
3.   Selalu meningkatkan wawasan dan ilmu pengetahuan dalam bidang apa pun dengan cara rajin membaca buku agar bertambah pengetahuannya. kadang kadang seorang penyiar diibaratkan sebagai manusia super yang tahu segalanya dalam berbagai bidang sehingga perkataan penyiar selalu di dengarkan oleh pendengar. 
4.   Punya rasa percaya diri. Seorang penyiar harus mempunyai rasa percaya diri yang cukup tinggi untuk berbicara di depan mik dan membawakan salah satu program acara di radio tersebut.
5.   Bisa dan belajar membuat naskah siaran. naskah siaran merupakan modal awal yang harus dikuasai dan dipahami oleh seorang penyiar, dikarenakan inti dari siaran itu ada di dalam naskah siaran. Seorang penyiar yang mampu menguasai membuat naskah siaran dengan baik, maka dia akan menjadi penyiar yang baik dan disenangi oleh para pendengarnya. 
6.   Selalu belajar dan berlatih teknik dan cara siaran yang baik dan benar. Teknik siaran merupakan bagian yang harus dikuasi seorang penyiar agar ketika siaran tidak terkesan monoton dan menjemukan, sehingga si pendengar bisa menikmati gaya dan teknik siaran yang sangat variatif dan enak untuk didengar.
7.   Rajin mengolah vokal suara. Suara merupakan modal utama bagi seorang penyiar, karena semua radio menjual suara seorang penyiar untuk menarik iklan yang merupakan sumber pendapatan bagi radio itu sendiri, juga seorang penyiar yang bagus akan banyak diminati oleh pendengar radio tersebut. tentunya harus mempunyai teknik vokal yang bisa dipelajari seperti ; cara menarik nafas, cara mengeluarkan nafas, dan cara menahan napas.
Modal utama yang perlu dimiliki seorang penyiar radio :
1.   Suara : Tentu saja, suara menjadi modal utama seorang penyiar radio. Namun suara yang bagus bukan berarti memiliki suara layaknya seorang penyanyi. Suara seorang penyiar radio adalah suara yang berkarakter (memiliki warna suara yang khas, artikulasi yang jelas dan intonasi yang terkontrol) serta original (meski memiliki panutan, namun menjadi diri sendiri itu lebih penting). Nah, karakter suara inilah yang akan berpengaruh pada imajinasi para pendengar.
2.   Kemampuan (capability) : Seorang penyiar dituntut untuk cerdas, karena ia harus mampu menyampaikan informasi dengan baik, benar dan menarik kepada pendengar. Untuk hal yang satu ini, seorang penyiar harus mampu mengendalikan emosi dan perasaannya, memiliki sense of humor serta mengembangkan feather of mind; yang artinya mengandalkan kekuatan audio untuk memvisualisasikan suatu keadaan. Untuk menunjang kemampuannya, seorang penyiar dituntut untuk berwawasan luas dan terus mengikuti perkembangan informasi.
3.   Keterampilan (skill) : Berbicara yang baik, benar dan menarik tentu adalah hal yang gampang-gampang susah. Tidak mengherankan jika keterampilan utama seorang penyiar adalah keterampilan ‘ngomong’. Namun, seorang penyiar tidak hanya bertugas untuk berbicara saja, tetapi juga mengoperasikan perangkat siar (mic, mixer dan computer). Karena itulah, kemampuan yang dimaksud tidak hanya kemampuan berbicara atau menyampaikan informasi pada pendengar, tapi kemampuan dalam berbagai hal yang berkaitan dengan dunia penyiaran.
4.   Sikap (attitude) : Untuk beberapa radio, attitude atau sikap ternyata menjadi poin terpenting kedua setelah memiliki suara yang bagus. Seorang penyiar (meski di radio lokal sekalipun), telah menjadi public figure yang secara tidak langsung menjadi panutan banyak orang. Karena itulah, ‘sikap‘ turut menjadi modal terpenting seorang penyiar. Selain itu, profesi ini membutuhkan pribadi-pribadi yang mampu bekerja sama dalam tim.
5.   Menguasai Bahasa Jurnalistik Tutur : Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh jurnalis tutur (reporter, presenter berita, atau anchor) dalam menggunakan bahasa jurnalistik tutur:
1.   Artikulasi : Pengucapan kata-kata, frase dan kalimat serta istilah khusus harus jelas, tegas, benar dan akurat.
2.   Intonasi: Nada pengucapan, naik turunnya lagu kalimat atau langgam nada kalimat harus tepat. Sehingga penjiwaan dalam bertutur akan terdengar cukup baik. Intonasi yang keliru dapat membuat pemaknaan dan penafsiran kalimat jadi keliru. Seorang jurnalis tutur harus berusaha agar pendengar (radio) dan pemirsa (televisi) tidak salah dalam menafsirkan tuturan lantaran intonasi yang tidak tepat.
3.   Aksentuasi: Penekanan atau penegasan terhadap kata atau kalimat yang biasanya akan berpengaruh terhadap maksud atau makna kalimat.
4.   Speed: Cepat lambatnya pengucapan kalimat. Terlalu cepat akan membuat artikulasi tidak jelas dan intonasi tidak bermain. Speed yang terlalu lambat akan membuat pendengar atau pemirsa bosan  dan tidak menarik dari segi kemasan berita atau informasi yang akan disampaikan.
5.   Pemenggalan kata tau kalimat: Pemengelan kata tau kalimat harus tepat dan cermat. Pemenggalan (phrasering) yang salah akan terdengar aneh dan lucu serta bisa menyesatkan pendengar atau pemirsa.
6.   Menguasai kosa kata : Seorang jurnalis tutur harus mengikuti perkembangan perkosakataan. Menguasai kosa kata dengan baik, berarti acara atau program yang sedang kita presentasikan akan lebih menarik, dinamis dan tidak monoton. Penguasaan kosa kata juga termasuk menguasai kosa kata kontemporer dan kosa kata khusus yang hanya dikuasai oleh kalangan tertentu, seperti praktisi perbankan, pasar uang, pasar modal, seniman, politikus, militer, kedokteran, sampai kalangan anak muda (bahasa gaul).
7.   Hindari salah ucap atau salah sebut : Salah ucap atau salah sebut akan mempengaruhi kredibililitas kita di mata publik (pendengar atau pemirsa). Salah ucap biasanya terjadi pada penyebutan istilah-istilah asing dari Bahasa inggris, Perancis, Jerman atau Bahasa Latin.
8.   Hindari pengucapan, bunyi atau suara yang tidak perlu : Contohnya: “e..e..e', 'ehm..ehm..', 'apa namanya', 'apa', dan 'ini'. Bisanya muncul pada saat wawancara dengan narasumber atau pendengar.
9.   Spoken reading : Seorang jurnalis tutur harus mampu menyampaikan suatu teks kaliamat, baik itu lead berita, informasi dari pendengar, lead wawancara atau berita yang dikutip dari media lain tidak seperti membaca, tetapi seperti bertutur sapa secara natural dengan pendengar atau pemirsa.
10.                     Menguasai pemilihan kata (diksi) : Seorang jurnalis tutur harus mampu memilih dan memilah kata-kata mana yang tepat digunakan sesuai dengan konteks dan situasi dan mana yang tidak boleh digunakan. Kita harus mengerti dan mengetahui mana bahasa yang standar atau baku dan mana yang tabu atau tidak.
11.                     Memiliki kemampuan bahasa yang baik : Bahasa adalah hal yang paling mendasar dalam jurnalistik tutur. Oleh sebab itu seorang jurnalis tutur harus mengetahui ilmu kebahasaan, sekalipun hanya pada batas-batas yang sederhana dan umum seperti mengetahui kosa kata, ihwal kata dan imbuhannya, ejaan, tata kalimat, tata alenia dan pilihan serta pilahan kata dan kalimat. Sehingga memiliki kemampuan yang memadai paling tidak untuk membuat atau memperbaiki lead berita yang  jelek.
12.                     Ramah, santun dan berempati : Seorang jurnalis tutur ketika berinteraksi dengan narasumber, pendengar atau pemirsa sebaiknya santun dan ramah. Gunakanlah bahasa dan intonasi yang tidak kasar. Kritis bukan berarti menggabaikan keramahan dan kesopanan. Disinilah diperlukan kepiawaian seorang jurnalis tutur untuk mengemas untuk mengemas kata dan kalimat menjadi pertanyaan yang kritis, tetapi dengan penyampaian yang ramah dan sopan, sehingga narasumber akan merasa nyaman. Jika narasumber sudah merasa nyaman, maka informasi yang ingin diketahui publik akan udah digali.
13.                     Mampu mengendalikan emosi. : Seorang jurnalis tutur mutlak harus dapat mengendalikan emosi ketika berada ditengah pendengar atau pemirsa. Kita harus pintar bermain sandiwara, meskipun pada saat yang sama kita sedang tidak mood, stres, marah, kesal, jenuh dan tidak dalam kondisi fisik yang prima. Seorang jurnalis tutur harus pandai menyembunyikan perasaan-perasaan tersebut ketika siaran di radio atau mempresentasikan berita di televisi sehingga tidak terlihat dan tergambar oleh pendengar atau pemirsa. Intinya seorang jurnalis tutur harus selalu memiliki semangat untuk tersenyum. Pikirkan saja hal-hal yang menyenangkan sebelum kita hadir ditengah pendengar atau pemirsa, mendengarkan musik atau bersenda gurau dengan rekan kerja.
14.                     Kemampuan mendengar yang baik. : Seorang penyiar mutlak memiliki kemampuan mendengar dan menyimak apa yang disampaikan oleh orang yang berinteraksi dengannya, baik itu pendengar atau narasumber. Ketidakmampuan untuk mendengar dan menyimak hanya membuat kesan anchor, reporter atau presenter tidak cerdas, tidak tanggap dan telmi (telat mikir). Kita harus mampu secara cepat menangkap dan merespon maksud yang disampaikan lawan bicara kita, sehingga kita dengan mudah mengajukan kembali pertanyaan berikutnya dengan pertanyaan yang pas dan cerdas. 
15.                     Vitalitas : Seorang jurnalis tutur dituntut untuk tampil prima, dinamis dan bersemangat. Kalau sedang merasa sakit, jengkel dan marah jangan sampai tercermin dari suara yang kita keluarkan.














Gaya Bicara di Radio: Roosevelt Style
RADIO is conversational. Radio itu obrolan. Maka, gaya biciara di radio harus bergaya ngobrol, layaknya dua orang teman sedang ngobrol. Bagaimana Gaya Bicara Radio Franklin Delano Roosevelt? Ini catatannya.

Radio is personal. Radio itu media yang bersifat pribadi. Karenanya, bicara di radio menggunakan gaya komunikasi antarpribadi, interpersonal communication, menghindari gaya bicara formal.

Bicara di radio termasuk Public Speaking. Hanya pendengarnya tidak tampak di depan mata, invisibel.

Lagi pula, audiens harus diasumsikan satu orang, hanya satu pendengar, dan dipandang sebagai teman baik sehingga gaya bicara kita pun akan akrab, hangat, dan ramah.
Maka, saat berbicara di radio, seperti halnya penyiar (announcer), gunakan gaya bahasa obrolan, layaknya ngobrol dengan teman dekat dalam keseharian.

Kiat berikut ini membantu kita untuk menjadi pembicara yang baik di radio, sebagaimana dilakukan Presiden Amerika Serikat, Franklin D. Roosevelt (FDR), dalam sebuah siaran radionya yang terkenal dengan “Fireside Chats”.

Gaya bicara atau kampanye radio Roosevelt dipandang sangat baik dan efektif. Tekniknya lalu diteliti oleh sekretarisnya, Frances Perkins.

Menurut Susan Berkeley yang menyajikan teknik ini dalam artikelnya, “How to Get Any Audience to Love and Admire You”, meskipun ini teknik khusus untuk berbicara di radio atau televisi –yang disebutnya Six Lessons Learned from FDR’s Fireside Chats– tapi dapat digunakan saat berbicara di mana saja –di depan audience, di telepon, atau tatap muka.
1.    FDR memvisualkan atau memperlakukan pendengar sebagai pribadi-pribadi, tidak pernah sebagai sekumpulan orang banyak (as individuals, never as a mass of people). Ia membayangkan bahwa hanya satu orang yang menjadi pendengarnya, sebagai teman bicara dan teman baik.

2.   FDR memvisualkan pendengarnya sebagai teman yang bersamanya di meja makan malam (the dinner table). Meja makan malam merupakan tempat menciptakan suasana santai dan akrab untuk berbicara.

3.   FDR menyadari wajah dan tangan pendengar, juga pakaian dan rumahnya. Kian spesifik berpikir tentang pendengar, akan makin baik kontak Anda dengan mereka. The more spesific you are about your listener, the more you will connect.

4.   Ekspresi suara dan wajah FDR ketika berbicara merupakan ekspresi seorang teman akrab (an intimate friend). Nada suara Anda sangat berhubungan dengan ekspresi wajah. Senyum akan menghangatkan suara Anda, membuatnya terdengar hangat dan inviting.

5.   Ketika berbicara, kepala FDR mengangguk dan tangannya bergerak secara alamiah, gerakan tubuh yang sederhana (simple gestures). Untuk menjadi komunikator yang powerful, Anda harus menggunakan seluruh tubuh. Gerakan dan bahasa tubuh (body language) menambah energi dan semangat bagi pembicaraan Anda.

6.   Wajah FDR penuh senyum dan ceria layaknya duduk di depan teman di meja makan malam bersama kawan karib atau teman kencan. Senyum adalah salah satu alat paling berpengaruh bagai pendengar Anda meskipun mereka tidak melihat Anda. A smile is one of the most powerful tools you have to create rapport with your listener, even when the can’t see you! Maka, senyumlah ketika berbicara, bahkan ketika Anda tidak mau melakukannya sekalipun.

Jangan gunakan gaya orator di panggung terbuka. Para ustadz yang berceramah di radio, juga demikian, gunakanlah gaya bicara FDR di atas. Jangan kayak lagi ceramah di podium atau di atas mimbar! Ingat, radio is conversational and personal! Wasalam. 

Post a Comment

Comen

Hot News

Hot Video

Featured Post

Tak perlu berdebat silahkan pake cara masing-masing

Copyright © HI News. Edit By Pastitala.org Thanks To OddThemes