Ketika covid menyapaku



"Ketika covid 19 menyapaku"
Tgl 25 juni aku merasakan sakit kepala yg luar biasa, dalam hati bingung krn sejak rutin konsumsi kopi 7 elemen hpai ditahun 2017 aku tdk prnh sakit kepala, sakit gigi, magh dan asthma ..sebelumnya mereka itu adalah penyakit langgananku. Untuk meredakan nyerinya aku minum gamat hpai 5 bj sekaligus 3 kali sehari dan andrografis 3x3. Ayangku juga merasakan mengalami hal yang sama, kepalanya sakit padahal sudah lama tidak merasakan sakit kepala, badannya terasa tidak nyaman.Ayang mengambil madu premium dan meminumnya dalam jumlah banyak dengan tujuan untuk memulihkan staminanya, seharian dia menghabiskan 1 botol, merasa belum berkurang besoknya dia mengambil lagi madu sapu jagat untuk mengatasi sakit kepalanya dan badannya yang terasa kurang nyaman, akhirnya dia menyerah karena kepala nya masih terasa sakit ,dia membeli p*r*m*x ,padahal selama 3 tahun kami tidak pernah mengkonsumsi obat kimia, kami hanya menggunakan herbal tapi ini menjadi pengecualian, setelah sakit kepalanya berkurang dia berhenti meminum obat itu, tetapi untuk terapi madu tetap dia konsumsi setiap hari, sementara aku tetap bertahan dengan obat obatan herbalku Setelah 3 hari sakit kepalaku mereda tapi aku merasa mual dan ingin muntah, tdk peka terhadap bau, lidah seakan mati rasa, ,dlm hati bertanya apa aku hamil karena sdh 2 bln blm menstruasi ,badan mulai lemas cepat lelah tidak berselera makan, akhirnya aku diare, pikirku ini mungkin krn aku tidak teratur makannya atau karena masuk angin. Selama seminggu aku mengalami diare, tapi krn aku byk mengkonsumsi herbal hpai sehingga tdk terlalu berat bagiku, diareku pun berangsur pulih, hanya saja entah mengapa dalam beberapa hari ini aku sering mengalami sakit didada sampai belakang biasa disebut “menyamak” sakit seperti ditusuk tusuk jarum. Tapi aku punya andalan tiap kali menyamak ,aku langsung minum zaitun. Alhamdulillah selama ini cukup tertolong dengan ikhtiar zaitun hpai, reaksi nya tidak lama setelah meminumnya maka sakit didada pun hilang. Beberapa hari kemudian ayang pun ikutan membaik, sudah pulih tidak ada keluhan apa-apa lagi.
Ketika salah seorang teman dilingkup kerja yang sama meninggal karena covid 19 maka dilakukan swab massal seluruh pegawai pada tanggal 3 juli, ada beberapa yg gugup tapi aku santuy menjalaninya krn rapid tes sebelumnya Non Reaktif. Feelingku mengatakan i’m okey, i’m fine. Take it easy.
Tanggal 9 juli fatih demam, dia rewel dan tdk mau makan. Dia menangis dan tidak mau lepas n*n*n maunya dipeluk terus. Luarbiasa melelahkan krn fatih selalu ingin menyusu, , bahkan ketika ditinggal ke kamar mandi pun dia menangis kencang. 11 juli demam fatih mereda, sdh tdk panas lagi tapi giliran aku yang demam, mungkin krn kelelahan tdk tidur ngeloni fatih. Ternyata bukan hanya demam tiba tiba seluruh tulang terasa perih dan sakit, nyeri otot seluruh tubuh.. Aku bahkan tdk bs shalat dg cara biasa hanya bisa shalat dg duduk di bangku krn tubuhku tdk bisa rukuk apalagi sujud, tidak bisa duduk dilantai setiap pergerakan tubuh diiringi sakit yang luar biasa awalnya aku mengira ini angin duduk krn blkg terasa panas dan nyeri ketika berbaring rasa sakitnya luar biasa, hanya posisi berdiri yg terasa kurang sakit..yang plg menyakitkan adalah perjuangan dikamar mandi krn dr berdiri harus jongkok dan itu periiihh, aku bahkan memilih utk pipis berdiri kecuali utk bab aku harus meringis jongkok.
Aku sudah ijin tdk masuk kantor sejak tgl 9 juli ketika fatih sakit dan terus bersambung dg sakitku. 15 juli sakitku mulai mereda setelah ku gempur dg gamat, spirulina dan zaitun dlm 3 hr aku menghabiskn 2 botol gamat, 2 botol spirulina dan 6 botol zaitun, tp aku memutuskn utk tetap istirahat tetapi sayangnya di tgl 15 juli ini pula aku mendapati seorang temanku confirm + covid.
Innalillah
Segera kusiapkan spirulina, extrafood, procumin propolis, utk analisku yg confirm +, kukirimkn via gojek ..tdk lupa kusemangati dan ku doakan dia, serta kuingatkan jgn lupa konsumsi herbalnya selama dia karantina.
Tgl 16 Juli keluar hasil pemeriksaan, ada 11 org yg konfirmasi, ku tanya wa temanku siapa 11 orang tersebut
Dijawab dg emoji menangis
kutanya ada apa?
Dia hanya menjawab" ibu" lalu menangis
Dia kirim fotonya yg sedang berlinang airmata
Ada apa ? aku penasaran
Dan firasatku tak enak
Lalu dia menjawab hari ini ada 11 yg + dan ibu salah satunya
Lalu dia menangis lagi.
Dia mengkhawatirkan aku yang memang memiliki asthma.
Aku kaget terpana
Aku confirm + covid
Aku terdiam sejenak , kemudian aku beritahukan ke ayang perihal hasil swabku yang confirmasi + covid
Lalu ayang bertanya apa yang harus dilakukan
Aku memilih isolasi mandiri, aku memastikan semua keperluan dikamar isolasi, alat makan, alat mandi dipisahkan sendiri. Segera kuminta anak –anak menyiapkan herbal hni hpai untukku dan untuk seluruh keluargaku yaitu egm, rosella, kelosin, habbatussauda, procumin propolis, spirulina, extrafood. Semua mendapat jatah herbal masing – masing untuk daya tahan tubuh mereka dan diriku.
Aku jelaskan kepada anak – anak tentang keadaan yang terjadi, bahwa sejak hari ini mamanya akan diisolasi. Untuk semua urusan mencuci . memasak, merapikan rumah semua dipegang anak – anakku , beruntung mereka sudah terlatih jadi tanggung jawab itu tidak terasa berat karena sudah terbiasa, fatih akan di asuh oleh ayang. Ku jelaskan juga bahwa hari ini seluruh anggota keluarga akan diswab oleh petugas, kasihan fatih kecil yang harus merasakan diswab. Kali ini Swab dilakukan 2 kali yaitu tanggal 16 dan 17 juli
Hari pertama terasa sangat berat, fatih yang tidak mengerti mengapa ia harus dipisahkan dari mamanya. Dia yang sehari harinya adalah anak yang aktif ceria menjadi rewel semua serba salah, dia berteriak “ammah, ammah “ dia tidak terbiasa melihat mamanya yang memakai masker. Setiap dia akan mendekat ke kamar maka akan segera ditarik
Seluruh keluarga ku juga memakai masker, kecuali fatih yang selalu ingin melepas masker kakak2nya. Pun begitu diriku , aku hanya melepas masker ketika berwudhu, bahkan tidur pun aku memakai masker.
Siang itu fatih rewel ingin n*n*n, mungkin dia ingin tidur siang, dia mengantuk. Akhirnya ayang menidurkannya dalam ayunan, sambil ayang bershalawat, dan digantikan kakak hasan dengan tartil Al Qur’an. Lama baru fatih tertidur, aku hanya bisa menangis mendengar suara mereka dari dalam kamar.Sungguh kejam covid ini yang memisahkan seorang anak dari ibunya, memisahkan seorang saudara dari saudaranya, memisahkan seorang istri dari suaminya. Ketika terdengar suara tangisan fatih ,reaksi spontan bertanya”kenapa adingnya, aa?”. “ading jatuh ma”jawab aa hasan. Entah berapa kali fatih menangis karena terjatuh, dan lainnya. Semuanya menjadi serba salah, digendong salah, di pangku salah, dibiarkan salah. It’s not so simple, it is very difficult. Siang yang terasa berat dan waktu berputar terasa sangat lambat, bahkan sampai tegah malam fatih tidak tertidur, biasanya sesudah isya jam 20.00 fatih sudah tidur, kini jadwal hancur berantakan bahkan jam 2 malam dia belum tidur, ayang dan kakak2nya tidak bisa tidur karena harus menemani fatih. Belum sehari fatih sudah terkena dampaknya dipisahkan dari mamanya, malam itu dia yang rewel terlalu banyak menangis badannya jadi panas, dia pun mencret entah kenapa, hati mama mana yang tdk sakit dan hancur melihat anak yang panas menangis berteriak memanggil ammahnya, dipisahkan dari asi nya. Aku bahkan ikut menangis sejadinya di dalam kamar menutup telingaku agar tak mendengar tangis fatih. Ayang berucap “Kalau tidak sanggup, tdk usah isolasi dirumah, isolasi di fasyansus saja, biar bisa fokus “ tidak, aku tidak akan meninggalkan anak anakku. Meski aku tidak bisa menyentuh mereka setidaknya aku bisa mendengar suara mereka, kehadiran mereka imun booster untukku, aku pasti survive, demi keluargaku.
Masalah yang kuhadapi bukan hanya dengan fatih, abahku pun terluka karena harus karantina dirumah dan tidak kuijinkan ke rumah sampai hasil swab seluruh keluarga keluar. Iya, sejak aku terkonfirmasi + covid seluruh keluarga yang kontak erat denganku juga di swab, fatih kecil pun harus merasakan sakitnya ditusuk dihidung yang disebut di swab. Abahku menangis memohon agar tidak dipisahkan dari fatih “ memisahkan fatih denganku sama dengan membunuhku” kata abah.
“bunuh saja aku” berkali kali abah berteriak. Mama pun harus menenangkan abah yang terpukul karena harus karantina berpisah dengan cucunya. Hanya berdua , abah dan mamaku harus sabar terpisah, dengan berat mereka melewati hari hari dikarantina , tidak ada yang bisa dilakukan selain menunggu hasil swab keluar. Lagi lagi ini tidak mudah, harus terpisah dengan cucu cucu tercinta.
Tidak lupa aku juga menghubungi kakak dan adikku, memberitahukan ttg yg menimpaku. Meminta mereka untuk tidak mengunjungiku. Kakakku sama2 tinggal dipelaihari jadi sesekali dia biasanya kerumah sebelumnya sedangkan adikku tinggal di Banjarmasin, sejak covid melanda Indonesia aku sudah melarang adikku kemana mana , ku minta mereka untuk tetap dirumah, bahkan tidak ku ijinkan mereka ke pelaihari untuk mengunjungi mama abah, dia manut saja, meski rindu dengan mama abah dia bisa menahan diri untuk tidak berkunjung, komunikasi dilakukan lewat video call WA. Kuyakinkan padanya bahwa ini ikhtiar kita menjaga keluarga, apalagi abah memiliki riwayat asthma. Selain abahku dan aku, anakku akhsay juga memiliki riwayat asthma. Kala itu aku sengaja menelpon memberitahu perihal sakit ku pada malam hari kira kira pukul 19.00 wita dengan tujuan agar dia tidak bisa segera ke pelaihari setelah mendengar beritaku karena sudah malam, tapi perkiraanku salah karena tepat pukul 22.00 wita (10 malam) adik iparku, suami adikku mengetuk pintu “mbak, ini yudi. Didepan pintu ada aku taruh kardus berisi sembako dan semua keperluan lainnya selama mbak dan keluarga isolasi,, kalau ada keperluan apa-apa lagi ,bilang yaa mbak , kami siap membelikan”.Masya Allah adik iparku rela naik motor + - 80 KM Banjarmasin – Pelaihari , 80 Km pelaihari – BJM , total 160 KM hanya untuk mengantarkan sembako buat kami, karena khawatir tidak ada pedagang yang mau menjual sembako pada kami yang sedang isolasi mandiri. Aku yakin dia lelah tapi demi kami dia rela. Begitulah saudara seharusnya, begitulah keluarga.ku akui adikku memang sangat menyayangi anak2ku ,keponakannya. Adikku sangat memanjakan mereka, tiap kali kami kerumahnya dia selalu memenuhi isi kulkasnya dengan makanan, buah,kue,es krim , apa saja yang diminta keponakannya pasti dikabulkan, apalagi pondok pesantren anak2ku di Banjarmasin maka dialah yang lebih sering menjenguk dan memenuhi kebutuhan anak2ku dipondok. Ketika hasan sakit dipondok , dia yang 3 kali sehari mengantarkan bubur untuk hasan dan terkadang aku yang protes padanya memintanya untuk tidak terlalu memanjakan anak2ku.
Ada satu lagi yang harus segera diurus yaitu membuat surat permohonan isolasi mandiri, alurnya adalah ada persetujuan dari RT, Lurah, Camat dan Kepala Puskesmas wilayah tempat tinggal. Yang paling membebani pikiranku adalah bahwa untuk isolasi mandiri , aku harus mendapat persetujuan berupa tanda tangan dari tetanggaku minimal 10 rumah yang berdampingan denganku. Ya Allah, ini berat. Ketakutan menghantuiku, bagaimana jika tetangga menolakku, bagaimana jika mereka keberatan ada warga yang isolasi karena aku menyaksikan sendiri beberapa penolakan warga terhadap seseorang yang confirm + covid, pernah aku mendengar cerita satu keluarga yang minta dirapid karena mereka diusir dari kampung dan penyebabnya adalah karena sang kepala keluarga membantu proses pemakaman pasien covid , mereka sekeluarga tidak diperkenankan tinggal dikampung sampai mereka bisa membuktikan hasil rapid mereka sekeluarga Non reaktif , kala itu aku berpikiran mungkin karena mereka tinggal dikampung hingga minim informasi dan sosialisasi, ketakutan mereka menjadi berlebihan tapi dilain hari aku pun mendengar cerita tentang sebuah keluarga yang di perkotaan diperumahan elit, ketika ada salah seorang warganya yang terpapar covid, mereka mengucilkan anggota keluarga yang lain padahal yang confirm + hanya suaminya sedangkan anak dan istrinya tidak terinfeksi alias negatif. Kenyataan ini membuatku berpikir ternyata penerimaan seseorang terhadap seseorang yang confirm + covid parameternya bukan tingkat pendidikan, umur, tempat tinggal, tingkat ekonomi ataupun yang lainnya, parameternya hanya satu tidak lain tidak bukan yaitu hati. Hati dari seseorang yang menganggap seseorang yg confim + covid adalah saudaranya. Hati dari seseorang yang mau peduli pada seseorang lainnya meski seseorang itu confirm + covid. Ketika terpapar covid menjadi sebuah seleksi alamiah(gratis) terhadap orang orang disekelilling kita selama ini , mana yang benar benar tulus mana yang hanya modus. Yang tulus akan tetap mendampingi, yang modus perlahan menjauhi. Semalaman aku menangis memohon kepada Allah agar membukakan pintu hati tetanggaku sehingga mereka mengijinkanku isolasi mandiri, jika mereka keberatan maka mau tidak mau aku harus diisolasi di fasilitas yang disediakan Pemerintah, aku harus terpisah dengan keluargaku, anak2ku, fatih kecilku dan bayangan ketakutan itu menghancurkanku. Ya Allah hanya kepadaMu hamba memohon pertolongan. Ku hubungi pak RT ku ceritakan perihal yang menimpaku. Alhamdulillah pak RT sangat baik, beliau menyuruhku fokus istirahat untuk penyembuhan dan pemulihan ,semua birokrasi administrasi pengajuan isolasi mandiri untukku beliaulah yang akan mengurusnya termasuk yang akan keliling komplek untuk meminta persetujuan dari para tetanggaku. Alhamdulillah ternyata semua tetanggaku menyetujui dan mau tanda tangan di surat permohonanku, ketakutanku tak terjadi justru sebaliknya , ketika tetanggaku mengetahui aku confirm + covid satu persatu pesan masuk di WA ku, mereka semuanya menyemangatiku dan menawarkan diri siap membantu apa saja jika aku perlu bantuan, Allah Maha Baik Allah kirim pertolongan untukku melewati para tetanggaku. Secara bergantian tetanggaku memberi kami makanan, pagi siang malam, sayur masak sayur mentah lauk masak lauk mentah, telur , tahu, tempe , kue, cemilan. Masya Allah luar biasa perhatian para tetangga untuk kami. Isolasi yang tadinya terbayang sangat berat menjadi tidak berat lagi, kami menjalani hari dengan santai, anggap ini liburan dari Allah untuk kami.anak anak dan suami bahkan mengisi waktunya dengan berkebun. Selama isolasi asupan untuk imun tubuh untukku dan keluargaku benar benar kuperhatikan,dalam jumlah yang cukup dengan biaya yang tidak sedikit ( susu Kambing/egm, rosella, kelosin, gamat, spirulina, extrafood, procumin propolis, sevel, zaitun, habbatussauda softgel) sehat dulu, kuat dulu , bahagia dulu, jangan hitung2an.
Tanggal 22 Juli keluar hasil swab 16 dan 17 Juli , Alhamdulillah hasilnya aku sudah sembuh alias sudah negatif. Seluruh keluargaku hasilnya negatif artinya mereka tidak ikut terinfeksi covid, hanya aku. Finally, I’m survive fighting with covid even with comorbid asthma.


Dalam rangka meningkatkan kwalitas dan kwantitas Web ini, silahkan untuk memberikan Coment, baik Keritik Maupun Saran pada kolom Komentar dibawah ini.Atas nama Manegemen hobbyimul.com kami Haturkan Terimakasih. Jangan lupa Like and Subcribe Channel Kami: https://www.youtube.com/channel/UCWf6mFpnCsJj3Lu8z10_SYQ?view_as=subscriber

Post a Comment

Comen

Hot News

Hot Video

Featured Post

Tak perlu berdebat silahkan pake cara masing-masing

Copyright © HI News. Edit By Pastitala.org Thanks To OddThemes